Saturday, 2 April 2016

Ayah, Aku Sudah Capek

http://filesmoslem.blogspot.co.id/2016/04/ayah-aku-sudah-capek.html


Ayah, Aku Sudah Capek.

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang baca koran.

"Oh Ayah, Ayah"

"Ada Apa?"

"Aku capek, sangat capek... aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedangkan temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek... aku mau nyontek saja! Aku capek.
Sangat capek."

Lalu anak itu terus melanjutkan keluhan pada ayahnya.

"Aku capek karena aku harus terus menerus membantu  ibu membersihkan rumah, sedangkan temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! ... aku capek, sangat capek..."

"Hmmm."

"Aku capek karena aku harus menabung, sedangkan temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung... aku ingin jajan terus!"

"Oh begitu?" Ayahnya datar menanggapinya.

"Aku capek, sangat capek karean aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedangkan temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati."

"Ya.."

"Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku."

"Hmm.."

"Aku capek Auah, aku capek menahan diri... aku ingin seperti mereka... mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka Ayah!"

Sang anak mulai menangis. Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya.

"Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu."

Lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.

Sang anak pun mulai mengeluh.

"Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang... aku benci jalan ini ayah."

Sang ayah hanya diam.

Sampai pada akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

"Wwaaaaaaahhhh.... tempat apa ini Ayah?" Aku suka! Aku suka tempat ini!"

Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk dibawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

"Kemarilah Anakku, ayo duduk di samping ayah," ujar sang ayah, lalu sang anak pu ikut duduk di samping ayahnya.


|Baca Juga : Kisah Ayah Mendongeng

"Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah...?

"Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?"

"Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dala menyusuri jalan itu."

"Ooh... berarti kita orang yang sabar ya yah? Alhamdulillah"

"Nah, akhirnya kamu mengerti"

"Mengerti apa? Aku tidak mengerti"

"Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan gar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi."

"Bukankah kau harus sabar saat duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melewati ilalang dan kau pun harus abar saat dikelilingi serangga... dan akhirnya semua terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah... seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapa apa-apa anakku, oleh karean itu bersabarlah anakku."

"Tapi Ayah, tidak mudah untuk bersabar"

"Aku tahu, oleh karena itu ada Ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat... begitu pula hidup ada ayah dan ibu yang akan terus disampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi... ingatlah anakku... ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu nanti, kau harus bisa berdiri sendiri... maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain."

"Begitu ya Yah?"

Jadilah dirimu sendiri... seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya... maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang... ,ala lai taji aljormua kan?"

"Ya Ayah, aku tahu.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini... sekarang aku mengerti... terima kasih Ayah. Aku akan tergar saat yang lain terlempar"

Sang Ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

"Seorang ayah selalu mengajari anak-anaknya
tentang arti sebuah perjuangan hidup,
tanpamenggurui, namun menjalaninya bersama"




Dikutip dari : Ayah Pemilik Cinta yang Terlupakan - Eidelweis Almira

loading...


EmoticonEmoticon