Thursday, 7 April 2016

Saat Orang-Orang Lalai Sekarat

http://filesmoslem.blogspot.co.id/2016/04/saat-orang-orang-lalai-seklarat.html

Saat Orang-Orang Lalai Sekarat


Mengenai orang-orang lalai, banyak kabar telah disebutkan. Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa ketika sakaratul mau menghampiri Abdul Malik bin Marwan, ia mendengar suara tukang cuci dari samping istana. Ia pun berkata, "Oh, sekiranya aku tukang cuci biasa. ... Seandainya ibuku tidak melahirkanku... . Seandainya aku tidak menjabat khalifah..."

Sa'id ibnul Musayyab, tabi'in terkemuka, berkomentar ketika mendengar ini, "Alhamdulilla, Allah telah membuat mereka lari ke kita di saat meninggal, bukan kita yang lari ke mereka.

Kita berlindung kepa Allah dari kehidupan seperti ini, yang membuat kita lengah dan lalai.

Abdul Malik bin Marwan ini, sewaktu berhasil mengalahkan para penentangnya dan membunuh Mush'ab ibnuz Zubair di Irak, membentangkan mushaf di hari ia diangkat menjadi khalifah. ia membaca mushaf tersebut dan menutupnya kembali seraya berujar, "Ini adalah kali terakhirku denganmu!"

Komentar adz-Dzahabi  dalam Siyar A'laamin-Nubalaa, "Ya Allah jangan perdayakan kami!"

Bandingkan dengan Sa'a  bin Abi Waqqash, salah seorang yang dijamin masuk surga. Ketika sekarat, ia didatangi oleh anak perempuannya yang menangis dekat kepalanya.

"Jangan menangis, putriku. Demi Allah, aku ini termasuk penduduk surga!" Katanya.

Ia benar... beruntung dan berbahagialah Sa'ad! Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah mengabarkan bahwa Sa'ad termasuk penduduk surga.

Lihat, alangkah jauh perbedaan kedua orang ini. Betapa jauh perbedaan akhir kehidupan keduanya.

Mu'awiyah bin Abi Sufyan, sang khalifah, sedang sekarat. Ia turun dari singgasanaya, menyingkap permadani, dan menyapukan debu ke wajahnya.

Kemudian ia berkata, "Maha benar firman Allah,

'Barangsiapa menghendakikehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan merekan di dunia (dengan sempurna) dan mreka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah merekankerjakan.' " (Huud: 15-16).

Mu'awiyah melanjutkan, "Aku tidak membpunyai bekal apa pun yang lebih ampuh dari Laa ilaaha illallaah Muhammad RAsulullah."

Riwayat ini terdapat dalam "Washaayal 'Ulama", tapi kesahihan sanadnya perlu ditinjau ulang.

Muawiyah melanjutkan, "Bila meninggal nanti, kafanilah aku dengan gaunyang kuperoleh dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam... Ada botol di ruangan kantor kekhalifahan berisi kuku dan rambut Rasulullah! Taruhlah kuku dan rambut tersebut pada mata dan hidungku." Ia lalu pergi menghadap Allah.

Harun Ar-Rasyid, menjelang ajalnya datang, mengadakan parade militer. Ia memandangi tentaranya, berdoa, "Wahai Yang kekuasaan-Nya tidak lenyap, rahmatilah orang yang kekuasaannya sirna."

 Al-Watsiq, pemangku jabatan khalifah sesudah al-Mu'tashim, adalah seorang yang kejam tidak kenal ampun. Dialah yang memenggal kepala Ahmad bin Nashr al-Khuza'i, ulama mahsyur, salah satu pucuk pimpinan Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dan termasuk ulama terkemuka, serta penulis kitab al-I'tishaam bil-Kitaab was-Sunnah.

Beliau menghadap al-Watsiq. Al-Watsiq menyuruhnya mengakui bahwa Al-Qur'an itu adalah makhluk. akan tetapi, ia menolak, menentang, dan tidak mau terima. Al-Watsiq maju dengan sebilah pisau kecil, menusukkannya ke dadanya. Ia menyembelihnya seperti menyembelih kambing.

Al-Watsiq ini, pada saat sekarat, sebagaiman dituturkan oleh as-Suyuthi dala Taariikhul-Khulafa'. "Begitu mereka membaringkannya setelah ia meninggal dan menyerahka ruhnya kepada Allah, datanglah seekor tikus yang mengambil kedua matanya dan memakannya!" Peristiwa ini diperlihatkan Allah kepada manusia-manusia diktator di dunia ini.

Abdul Haq al-Isybili menyebutkan  bahwa al-Mu'tashim dijemput kematian. Al-Mu'tashim adalah panglima militer sekaligus khalifah yang menaklukkan Amuria dengan sembilan puluh ribu prajurit.

"Sembilan puluh ribu prajurit bagai singa
Kulit mereka matang lebih cepat dari buah tin dan anggur"
***Bait Syair karya Abu Tammam (188-231 H)***

Sebagian sejarawan mengatakan bahwa ia pernah meraih lempengan besi lalu menuliskan namanya, karena sakig kuatnya. Ia termasuk orang paling perkasa. Bahkan seorang ahli hadits berkisah, "Saya menghadap al-Mu'tashim. Ia mgulurkan tangannya kepada saya, lalu berkata 'Aku memintamu, atas nama Allah, untuk menggigit tanganku.' "

"Saya pun menggigit tangannya," lanjut ahli hadits tersebut. "Demi Allah, gigitanku tidak berbekas pada tangannya!"

Tapi keperkasaan itu tidak berdaya menghadapi si Pemusnah kenikmatan, pemisah kumpulan, dan perampas anak laki-laki dan perempuan.

Ajal al-Mu'tashim tiba. "Apakah hari ini aku akan mati?" tanyanya.
"Ya, hari ini Tuan akan mati," jawab orang-orang.

Dia masih muda, baru empat puluh tahun usianya. Orang mengira ia tidak akan mati sebelum berusia 70 tahun.

Al-Mu'tashim turun dari peraduannya. Ia berujar, "Demi Allah, sekiranya aku menduga akan mati hari ini, pasti tidak akan kubuat segala maksiat yang telah kulakukan.

Maha suci Allah! Apa bedanya hari ini dengan esok hari.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).... (Al-Hasyr:18)

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (Ali Imran:102)

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (Al-Ahzab: 70-71)

Orang yang asyik bermaksiat hanya akan sadar pada saat sekarat. Betapa banyak penceramah menyampaikan! Betapa banyak ulama berbicara! Betapa banyak dai sudah menyerukan! Namun, sebagian orang baru menjawab seruan ketika nyawanya sudah meregang di dada. Laa ilaaha illallah. Betapa lalainya... 

Sedangkan orang -orang pilihan tahu bahwa jalan menuju Allah swt. adalah dengan bersiap-siap menghadapi sakaratul maut.

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah lurus yang ahli ibadah. Dalam riwayat yang shahih, Imam Ahmad pernah menyatakan bahwa tidak ada seorang pun tabi'in yang ucapannya bisa dijadikan hujjah selain Umar bin Abdul Aziz. Ketika ajalnya sudah hampir tiba, ia berujar kepada istrinya, Fatimah, "Keluarlah dari kamar ini, sebab aku melihat beberapa makhluk yang bukan bangsa manusia dan bukan pula bangsa jin (yakni:malaikat)."

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan Kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan  janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan  kepadamu. 'Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Fushshilat:30-32)

"Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka)." (Al-Anbiya':101)

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya satu hal yang bisa mengingatkan kita kepada kematian adalah melakukan ziarah kubur sesuai petunjuk syariat. Yakni melakukan ziarah, mengucapkan salam kepada para penghuni makam dan mendoakan mereka, merenungi bagaimana pemusnah kenikmatan merenggut mereka, menjebloskan mereka ke dalam liang yang gelap, menarik mereka keluar dari rumah, gedung dan istana. Dahulu mereka makan minum, berfoya-foya, tertawa-tawa, mengendarai mobil mewah, menduduki jabatan tinggi, membangun  gedung-gedung pencakar langit, dikerumuni orang banyak.... akhirnya semua itu direnggut dari tangan merekan, dan mereka dikuburkan dalam lubang-lubang yang sempit itu. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.

Hal lain yang bisa mengingatkan pada kematian adalah :

  1. Berkumpul dengan orang sholeh, mengadakan silaturrahim ke mereka, dan mencari hal-hal yang berguna dari mereka. Orang sholeh yang paling baik adalah pelajar ilmu agama, mereka belajar Al-Qur'an dan sunnah, karena mereka mempunyai bashirah. Mereka adalah hamba Allah yang paling baik. Hal ini bisa dilakukan dengan menghadiri majelis-majelis pelajaran dan pengajian mereka, mendengarkan wejangan, bersilaturrahim, mendoakan mereka, dan mencintai mereka karena Allah. Itulah ikatan yang kuat.

    "Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67)
  2. Menadabburi dan mengakrabi Al-Qur'an, menghafal semampunya dan melaksanakan ajarannya.

    Seorang sholeh berkata, "Banyak petuah spiritual dan wejangan yang sudah kubaca, tapi hasilnya tidak seperti menadabburi Al-Qur'an."

    Bila menyentuh hati yang awas, Al-Qur'an akan menunjukkan pengaruh yang luar biasa. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda :

    "Bacalah Al-Qur'an sebab ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemaberi syafaat bagi para pembacanya." (H.R. Muslim)

    "Yang terbaik di antara kamu adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an." (H.R. Bukhari)
  3. Pendek angan-angan.
    Dalam Shahih Bukhari, Ibnu Umar r.a. berkata, "Rasulullah saw. menarik pundakku lalu bersabda:

    "Di dunia ini jadilah engkau seperti orang asing atau musafir"

Ibnu Umar sendiri menasehati, "Bila waktu pagi, jangan tunggu waktu sore. Bila sore, jangan tunggu pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk persiapan sewatktu kamu sakit. Pergunakan hidupmu untuk persiapan menghadapi kematian." 

Wahai kaum muslimin, segeralah melakukan taubatannasuha kepada Allah swt.

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamaku-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.' "(Az-Zumar: 53)

Hanya orang yang segera bertobat yang bersiap-siap menghadapi maut. Al-A'masy, ahli hadist kawakan, ditangisi anak-anaknya ketika ajalnya hampir menjempu. Ia pun berkata, 'Janganlah kalian menangisiku! Demi Allah, selama enam puluh tahun lamanya aku tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram bersama imam."

Sa'id ibnul Mussayyib, ketika sekarat berujar, "Alhamdulillah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah saw. ketika muazin mengumandangkan azan."

Mereka mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan cara melakukan amal-amal saleh dan taubantannasuha setiap waktu.

Amir bin Tsabit ibnuz Zubair memohon kematian yang baik kepada Allah swt.. Ketika ditanya tentang maksud permohonannya, ia mengatakan, "Yakni saya berharap Allah mewafatkan aku ketika sujud," Lalu pada suatu hari ia shalat maghrib. Sewaktu sujud di rakaat terakhir, Allah mencabut nyawanya. Beruntunglah mereka, orang-orang yang saleh itu!

Sedangkan orang-orang lalai, hanya meninggal ketika bermain-main dan melakukan maksiat. Para ulama telah menyebutkan beberapa contoh akhir hidup mereka yang menyedihkan.

Ada yang mati sambil mendendangkan lagu dari biduanita terkenal dan tidak mau mengucapkan kalimat syahadat. Na'uudzu billah.

Yang lain, ketika diingatkan, "Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah", justru membalas, "Lima kali enam sama dengan berapa?" Orang-orang pun mengingatkannya lagi, tapi ia kembali mengulang perkataan yang sama sampai meninggal.

Oleh karena itu, orang yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu, ia juga akan terbiasa dengannya waktu tua. Dan orang yang sering melakukan sesuatu akan mati dalam keadaan melakukan hal itu. ini fakta.

Oleh sebab itu, wahai orang-orang yang saya cintai, sering-seringlah membaca Al-Qur'an, perbanyak dzikir dengan segala jenisnya. Mudah-mudahan Allah mewafatkanmu ketika melakukan amal baik tersebut.

Saya berdoa semoga Allah meneguhkan kita semua dengan kalimat syahadat dalam kehidupan  dunia ini dan akhirat kelak.

Wallahu a'lam.

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wasalam.




Dikuti dari : IF WE DIE Saat Mau Menjemput: Detik-detik terakhir - DR. Aidh Al-Qarni

loading...


EmoticonEmoticon