Thursday, 6 October 2016

Alasan Kurikulum Indonesia Meniadakan Rangking Kelas Pada Rapor Siswa


Alasan Kurikulum Indonesia Meniadakan Rangking Kelas Di Kelas Pada Rapor Siswa - Salam hangat dan semangat pagi pemirsa mardiyas.com. Kali ini kami akan menyajikan informasi mengenai pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah tidak adanya rangking kelas pada rapor siswa ditingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Tidak ingat kapan terakhir kali siswa menerima rapor hasil evaluasi belajar mereka sudah tidak tercantum rangking di dalamnya. Namun ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 3, rapor saya masih ada rangking kelasnya. Tepatnya di tahun 2004.

Ganti Menteri Ganti Kurikulum Ganti Kebijakan - Itulah fenomena yang terjadi di negara tercinta ini. Ini memang fakta, ketika Presiden Indonesia berganti maka akan ada pergantian dan atau pergeseran menteri. Ini terjadi sejak era reformasi bergulir di negara kita. Kita lihat dan amati di dunia pendidikan negara kita Indonesia. Saat menteri pendidikan berganti maka akan ada kebijakan baru dan entah mengapa kebijakan itu berimbas pada jantung pendidikan di Indonesia yaitu Kurikulum Sekolah. Jika tidak berubah kurikulumnya maka akan ada perubahan kebijakan. Seperti saat ini, Kurikulum tetap Kurikulum 13 namun sudah ada banyak wacana di dalamnya. Seperti, Full Day School infonya bisa dibaca di Siaran Pers, Full Day School Itu Yang Dimaksud Seperti Apa? dan Jam mengajar guru tidak lagi 24 jam perminggu namun cukup 12 jam saja, infonya bisa dilihat di Pemerintah Serius Kaji Ulang Jam Mengajar Guru.

Apa sebenarnya penyebab dihilangkannya rangking kelas pada rapor siswa sekolah? - Banyak sekali orang tua siswa yang sering menanyakan mengapa peringkat kelas tidak tercantum lagi di rapor. Kan peringkat bisa menjadi pemicu semangat untuk belajar lebih giat karena bersaing dengan teman kelasnya. Mungkin juga sebagian guru yang berkecimpung di dunia pendidikan belum tahu alasan mengapa tidak ada rangking kelas lagi. Demikian juga dengan siswa, pastinya bertanya-tanya mengapa koq tidak ada rangking lagi. Jika siswa bertanya kepada guru atau tepatnya walikelasnya, orang tua bertanya kepada kurikulumnya. Jawaban yang sering muncul pastilah "Itu sudah kebijakan dari kurikum ini itu, kebijakan dari bapak menteri juga dan bla bla bla," parahnya jawabannya adalah "ya udah memang juknisnya seperti itu tidak pake rangking lagi". Namun saya yakin masih ada guru yang mampu menjawab dengan bijak.

Lalu apa sih penyebab sebenarnya dihilangkannya rangking kelas di rapor siswa? Coba kita simak kisah berikut ini yang cukup dekat untuk menginspirasi jawaban dari pertanyaan di atas.


Saat ini sudah eranya teknologi informasi dan komunikasi, sangat mudah sekali untuk mendapatkan informasi yang ingin kita dapatkan, bahkan tanpa kita minta informasi itu datang sendiri. Apalagi jika bukan media sosial atau aplikasi mesanger. "Ceklung" Smartphone saya pagi-pagi sudah berbunyi, saya lihat eh ternyata dari teman di group lembaga tempat saya bekerja. Via WhatShap pesan itu disampaikan dan saya baca dengan pelan dan seksama.

Dari Group Sebelah

Ijin share pengalaman dari teman saya yang sekarang bekerja di Chevron, California...

Bagus untuk anak - cucu kita:

COMPETITION vs COOPERATION

Jumat lalu kedua anak saya menerima Report Card dari sekolahnya Ronald Reagan Elemntary School. Di Indonesia namanya rapot.

Melihat keduanya dapat nilai-nilai yang sangat bagus sementara tidak tercantum info tentang rangking, saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya.

Saya           : "Anak saya ranking berapa, Mrs. Batey?"

Mrs. Batey  : "Kenapa Anda orang Asia selalu bertanya begitu?"

(Weleh, salah apa ane Mrs, batin saya)

Mrs. Batey  : "Anda sangat suka sekali berkompetisi, Di level anak anda, tidak ada rangking-rangkingan. Tidak ada kompetisi. Kami mengajari mereka tentang cooperation alias kerjasama. Mereka harus bisa bekerja dalam team work dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi. Mereka harus punya banyak teman. Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis. Kami mengajari mereka logika dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan."

(Dari sini rupanya kenapa teman-teman saya di kantor mentalnya "How Can I Help You," hampir tidak pernah saya lihat jegal-jegalan. Dan di US, hampir semua profesi mendapatkan penghasilan yang layak, tidak harus semua jadi "dokter" seperti di Indonesia. Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai passionnya, sehingga semua bidang kehidupan sangat berkembang maju karena diisi orang-orang yang bekerja dengan gairah)

Weleh ... saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif. Banyak orangtua yang narsis memajang prestasi anak-anaknya di sosmed.

Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama. Kiri kanannya dianggap saingan dan dirinya harus menjadi yang terbaik.

Mending kalo dia mengembangkan dirinya supaya menang persaingan, yang ada kadang mereka menunjukkan baiknya dirinya dengan cara mengungkapkan jeleknya orang lain. "Kalo bukan kita siapa lagi, begitu jargonnya"

Wuih, betapa arogannya, seakan-akan yang lain tidak mampu dan hanya dia yang mampu. Sakit mentalnya.

"Aku menang... aku menang..." begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota. Entah permainan apa yang dimenangkannya. Entah kapan dia sadar bahwa hidup bukan melulu soal menang dan kalah saja.

tks.

Dari pesan di atas dapat saya simpulkan (tanpa membanding-bandingkan antara US dan INA) memang US sudah memiliki sistem kurikulum pendidikan yang paten yang tujuan utamanya adalah bagaimana agar siswa mereka kelak ketika terjun ke dunia kerja mampu bekerja sama, saling mendukung dan saling menghormati guna memajukan perusahaannya hingga mencapai kesejahteraan yang sama. Bila mereka duduk di bidang diplomasi dan kenegaraan, mereka mampu bekerja sama dengan solid untuk memajukan negaranya. Indonesia? Anda sekalian bisa menilainya sendiri.

Jadi mengapa rangking kelas ditiadakan di rapor siswa, berdasarkan analisa dari cerita di atas dapat disimpulkan alasannya adalah agar siswa tidak merasa bahwa sekolah itu tidak hanya sekedar untuk berkompetisi karena kompetisi akan mengajarkan dan menciptakan ke arah individualisme. Dan negara kita membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja sama dan memiliki empaty terhadap sesama rekan kerja. Dengan ditiadakannya rangking kelas saat ini pemerintah berharap agar siswa lebih mampu untuk bersosialisasi dan bekerja sama dengan baik, jujur dan bertanggungjawab agar sama-sama menjadi siswa yang pintar dan cerdas secara spiritual dan emosional. Bagaimana menurut Anda?

loading...


EmoticonEmoticon