Wednesday, 9 November 2016

Mau Pendidikan Maju Maka Jagalah Gairah Guru!

Mau Pendidikan Maju Maka Jagalah Gairah Guru!

Pendidikan bisa tetap maju jika gairah guru untuk mengajar tetap terjaga - Fenomena bahwa guru sekarang tidak sama dengan guru zaman dahulu dirasa benar adanya. Penghormatan tertinggi terhadap guru sudah mulai pudar, hal ini terbukti dengan banyaknya kasus miris guru diadili dan dipenjarakan gara-gara mendisiplinkan murid.

Konsentrasi guru mengajar juga sudah mulai berkurang karen terkuras akan tuntutan keadministrasian guru dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru terlebih-lebih guru PNS. Semua itu tidak akan terjadi apabila pemerintah dan masyarakat mampu mejaga gairah guru dalam memberikan ilmu kepada anak didiknya.

Tak sedikit pula guru nyambi (kerja sampingan) selepas mereka selesai mengajar cuma untuk menyambung hidup untuk besok harinya. Tak pelak, ada istilah guru makelar, guru ngojek, guru cukur, guru dagang dan lain-lain.

"Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa..."

Masih ingat lirik lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di atas? Lagu untuk para guru dan pendidik. Lirik lagu itu menunjukkan betapa mulia profesi guru.

"Pendidik adalah teladan bagi peserta didiknya," kata CEO & Founder Elite Tutors Indonesia, Sumarsono, (16/9/2016).

Guru, lanjut Sumarsono, tidak hanya bertanggung jawab atas penyampaian materi tetapi juga berperan sebagai panutan. Namun, tak bisa dipungkiri guru juga manusia biasa yang memiliki banyak kebutuhan hidup untuk dipenuhi. Sayang,nya keluhan soal kesejahteraan para guru masih terus saja bergaung.

Seperti dilansir kompas.com pada Jumat (29/1/2016), misalnya, masa ini menjadi agenda Konferensi Kerja Nasional III Persatuan Guru Republik Indonesia pada Januari 2016.

Keluhan yang mencuat antara lain pengucuran tunjangan belum tepat waktu. Persyaratan penerimaan tunjangan juga dirasa terlalu banyak. Proses kenaikan pangkat pun disebut masih rumit. Belum lagi soal jabatan fungsional dan kecilnya pendapatan guru honor. Juga, sejumlah tunjangan khusus disebut belum merata.

Padahal, tanggung jawab guru tidak kecil. Rasio guru dan murid juga sering tak seimbang. Menurut PP 74/2008 tentang guru, idealnya satu guru maksimal mengajar 20 siswa. Kenyataannya, satu guru kerap mendidik lebih dari 40 siswa pada satu waktu.

Untuk itu semua, seorang guru harus terus-menerus mengasah kualitas dan membangun kepribadian. "Jadilah guru yang kehadirannya selalu dinanti peserta didik karena metode pengajarannya menarik," ujar Sumarsono.

Agar pengajaran efektif, lanjut Sumarsono, guru sebaiknya memastikan pula terlebih dahulu muridnya memang sudah siap menerima materi pelajaran.

Gairah Guru

Dalam perbincangannya dengan kompas.com, Sumarsono mengaku tidak sependapat bila guru harus menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan pula berarti guru butuh medali.

Namun, guru harus dipastikan hidup sejahtera. Harapannya, kesejahteraan itu akan membuat guru terus termotivasi mengembangkan diri, kata Sumarsono.

"Semakin berkembang guru, ia akan semakin maksimal mengajar, sehingga anak didik ikut berkembang," ungkap Sumarsono.

Menurutnya saat ini pendidikan masih terlalu terpaku pada pengabdian. Seolah-olah, mulianya profesi ini membuat guru tidak perlu sejahtera.

"Namun, saya menekankan, pendidik jangan lalu menuntut dibayar mahal, tapi (pendidik yang harus) memantaskan diri," tegas Sumarsono.

Tentu saja, guru harus terus menambah kompetensi agar pantas dibayar mahal. Di dalamnya termasuk mempelajari kasus-kasus yang berkembang di dunia pendidikan dan cara menghadapi anak-anak tertentu.

"Nah, bagaimaina pendidik sekarang mau berkembang kalau sambil mikir besok mau makan apa? Pendidikan macam apa yang mau dibangun oleh pendidik yang tidak sejahtera?" tanya Sumarsosn.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Sumarsono pun mamastikan para tutor di lembaganya mendaptkan bayaran pantas dan hidup sejahtera. Dari situ dia juga memastikan kualitas para pengajar di lembaganya.

"Guru harus memiliki dua kualitas utama. Kualitas latar belakang akademik dan kepribadian menarik," tegasnya.

Menurut Sumarsono, peserta didik akan sulit menerima ilmu dari guru yang tidak konsisten dan perilaku kesehariannya bertolak belakang dengan ajarannya.

Sistem evaluasi pun Sumarsono bangun. Hasil dari proses ini dilaporkan pula ke orangtua murid, berbarengan dengan data perkembangan program.

loading...


EmoticonEmoticon