Saturday, 4 February 2017

Ini Alasan Pendidikan Anak Perempuan Lebih Diutamakan

Ini Alasan Pendidikan Anak Perempuan Lebih Diutamakan

Mardiyas.com - Alasan pendidikan anak perempuan lebih diutamakan - Pembaca yang budiman, kali ini penulis mendapatkan kesempatan untuk mengangkat sebuah tulisan sederhana mengenai pendidikan anak perempuan, dimana informasi ini tersaji secara Islami. Beberapa waktu yang lalu penulis mendapati putri kecilnya mulai terbiasa membiasakan diri untuk mengucapkan "Astagfirullah" dalam mengalami setiap kejadian yang dia rasa kurang pas dengan perhatiannya. Di usianya yang baru menginjak 4 tahun sudah mampu seperti itu. Sepertinya Allah sedikit memberi pelajaran kepada ayah bundanya melalui sikap polosnya.

Rasulullah saw menganjurkan untuk memberi "perhatian" lebih pada anak perempuan. Berikut penulis rangkum alasan mengapa Pendidikan Anak Perempuan Lebih Diutamakan.

1. PERAN SENTRALNYA KELAK DALAM KELUARGA
Islam sangat menghargai persan seorang anak perempuan sebagai calon ibu dan pendidik generasi, sehingga harus disiapkan secara fisik dan mental sebaik-baiknya. Apabila aset ini dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang juga baik, maka kelak dia akan dapat berperan lebih dalam keluarganya. Sebaliknya, apabila aset tersebut disia-siakan, perannya akan terbatas dan bahkan dapat memberikan pengaruh negatif kepada keturunannya kelak.

2. CALON IBU
Tak kalah pentingya, putri kecil kita ini kelak akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Kelak, dia pula yang melanjutkan estafet keimanan dan keislaman kepada anak cucunya. Kalau putri kecil kita tidak ditanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, maka yang akan terpatri dalam dirinya adalah nilai-nilai lain yang bisa jadi berseberangan dengan Islam.

Seorang ibu tentu saja berperan besar dalam perkembangan anaknya, terutama anak perempuan. Sukses mendidik putri kita tersebut merupakan kesuksesan yang bersifat multi effects (efek berantai) yang diharapkan berlanjut sampai ke generasi selanjutnya. Karenanya, sangat penting memberikan pendidikan yang baik kepada para calon ibu ini. Sebaliknya, gagal mendidik mereka memiliki dampak yang tak mudah dihentikan begitu saja pada pendidikan generasi sesudah mereka.

Untuk itu, apabila ingin membina dan mewujudkan sebuah generasi Qur'ani, mulailah degnan putri kecil kita. Karena dari tangan merekalah akan lahir generasi Qur'ani. Sebelum menjadi ibu, mereka adalah putri-putri kecil yang Qur'ani remaja-remaja yang Qur'ani, dan gadis-gadis muda yang Qur'ani pula.

3. CALON ISTRI
Kelak putri kita ini mau tidak mau akan dipersunting orang lain, calon suaminya. Peran lain yang kelak akan disandangnya adalah menjadi istri. Bersama suaminya, dia akan menegakkan benteng-benteng kokoh yang bernama keluarga. Dan itu semua memerlukan persiapan dan penyiapan dari kita selaku orang tua.

Maka mendidik dan membina seorang putri kita juga membantunya untuk sukses dalam menjalani kehidupan rumah tangganya kelak. Sebab tumbuh kembang seorang gadis sebelumnya di dalam keluarganya, sangat menentukan apakah dia dapat menjadi benteng di dalam keluarga barunya atau justru sebaliknya menjadi penyebab retaknya mahligai rumah tangga yang baru dibinanya.

Inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah kepada para pemuda yang hendak menikah. "Waspadalah kalian terhadap khadra' ad-diman (daun hijau yang dikubangan)!" Para Sahabat bertanya, "Apakah khadra' itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Yaitu wanita cantih yang tumbuh ditengah-tengah keluarga yang buruk," (HR: Al Qudha'i)

Perbedaan Karakteristik Anak Perempuan dan Laki-laki
Secara kognitif, tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda dalam menyerap informasi. Namun, perbedaan fisik ternyata berpengaruh terhadap cara dalam menelola informasi.

Menurut penelitian, terdapat perbedaan ukuran antara otak perempuan dan otak laki-laki. Perbedaan itu berpengaruh terhadap cara berfikir masing-masing. Apabila laki-laki cenderung melakukan analisis secara logis terhadap informasi yang masuk, justru perempuan melakukan analisis terhadap unsur-unsur bahasa yang menjadi informasi tersebut.

Menurtu Sally Sweet (Hammud, 2013), cara yang berbeda dalam mengelola informasi menyebabkan perbedaan lain. Kedua jenis kelamin ini berbeda dalam menyampaikan informasi yang diolah. Pria lebih fokus dalam berbicara dan lebih terarah, perempuan cenderung lebih fasih dan lancar.

Perbedaan seperti itu patut diperhatikan orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak perempuan. Pengetahuan terhadap perbedaan tersebut dapat menjadi bekal bagi orang tua dalam memilih teknik berkomunikasi dengan putri tercinta mereka, menghadapi tingkah laku dan bagaimana cara menanggulanginya.

Perbedaan lain adalah aspek psikologis. Masih menurut Hammud, salah satu perbedaan keduanya adalah dalam kebutuhan emosional. Anak perempuan cenderung memiliki kebutuhan emosional lebih besar dibanding dengan anak laki-laki.

Karenanya, orang tua sebaiknya meluangkan waktu lebih banyak bersama putri mereka supaya kebutuhan emosionalnya terpenuhi, seperti kebutuhan untuk dipeluk, ditemani, didengarkan ceritanya dan lain sebagainya. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan emosional anak dapat menjadi pemicu baginya untuk mencari pemenuhan kebutuhan emosional diluar rumah. Ini merupakan pintu masuk bagi pengaruh negatif dari luar rumah yang lebih sulit dikontrol.

Karena aspek emosional yang lebih dominan, orang tua perlu berhati-hati dalam menerapkan metode pendidikan yang biasa ia terapkan terhadap anak laki-laki. Aspek emosional ini patut menjadi pertimbangan apabila metode yang sama diterapkan kepada anak perempuann tidak berhasil.

Perbedaan lainnya dalam hal nilai dan cara pandang. Anak putri cenderung memiliki nilai dan cara pandang yang subyektif dibandingkan dengan anak putra. Perbedaan ini perlu diperhatikan orang tua ketika mendengarkan cerita dari putri mereka. Tidak perlu ditelah mentah-mentah. Harus dibedakan, mana iformasi faktual dan mana informasi sentimental.

Dalam aspek sosial fisiologis juga ada perbedaan.
  1. Pertama, dalam menyelesaikan masalah. Bila anak laki-laki cenderung berusaha menyelesaikan persoalannya sendiri, anak perempuan justru cenderung berbagi masalah dengan orang lain. Ini bisa mempengaruhi prestasi belajar mereka. Anak perempuan cenderung memiliki motivasi belajar lebih tinggi.
  2. Kedua, anak perempuan biasanya memiliki kematangan fisik lebih cepat. Pada usia yang sama, anak perempuan lebih cepat baligh dibanding anak laki-laki. Ini tentu saja berimplikasi terhadap pendidikan yang diberikan. Kematangan fisik yang lebih cepat ini harus diantisipasi dari orang tua. Implikasinya adalah pola pendidikan yang diterapkan sedikit berbeda, terutama dari segi lamanya tahapan pendidikan yang dilalui sang anak perempuan. Pemberian materi tentang 'iffah (menajag kesucian diri), misalnya, dapat diberikan di masa yang lebih awal, sesuai dengan tingkat kematangan fisik dari anak perempuan yang bersangkutan.
Begitulah sejumlah perbedaan anak perempuan dan laki-laki. Namun patut ditekankan, bukan berarti Islam menganjurkan diskriminasi di antara keduanya. Misalnya mengutamakan pendidikan anak laki-laki ketimbang anak perempuan, sebagaimana sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Seperti itu tidak boleh. Justru Rasulullah menganjurkan untuk memberi perhatian lebih kepada anak perempuan. Di dalam salah satu doanya, Beliau pernah mengadukan nasib anak perempuan kepada Allah. Beliau berdoa, "Allahumma inni uharriju haqqadhdha'ifaini: al yatimi wal mar'ati." ("Ya Allah, hamba merisaukan hak dua golongan yang lemah: anak yatim dan perempuan.") (HR.Ibnu Majjah).

Demikian artikel sederhana ini penulis susun demi mengingatkan diri sendiri dan pembaca sekalian, tentang pentingnya memberikan perhatian dan pendidikan lebih pada anak perempuan. Artikel ini penulis susun berdasarkan sumber yang kami kutip dari majalah Mulia.

loading...


EmoticonEmoticon