Monday, 31 July 2017

Mendidik dan Mengajari Anak Tekun Sholat

Mendidik dan Mengajari Anak Tekun Sholat

Mardiyas.com - Di era jaman saat ini boleh dikatakan adalah jaman teknologi canggih dimana peradaban terus berkembang. Ingat dalam sebuah pepatah mengatakan "Belajar agama itu harus mundur dan belajar teknologi itu harus maju". Mengapa mempelajari agama harus mundur? Hal itu dikarenakan semua petunjuk Al-Qur'an dan Al-Hadist pendidikannya berada di 1400 tahun silam, jika kita mempelajari agama itu maju, maka yang akan muncul adalah pemikiran-pemikiran pribadi kita yang dilandasi oleh nafsu dan tidak ada dasarnya.

Mengingat kebudayaan asing yang sudah mulai masuk ke lingkungan kita, jelas peran orang tua untuk menciptakan keluarga yang Qur'ani sangatlah penting. Mulai dari hal yang sederhana yaitu menanamkan taat sholat kepada anak-anak kita. Membicarakan perihal mendidik dan mengajarkan sholat pada anak-anak, penulis ingat pada sebuah tulisan yang tertuang di majalah Mulia karangan Ramatia ZR alumni STIS Hidayatullah Balikpapan. Dalam tulisan tersebut mengisahkan sebuah keluarga dalam mendidik dan mengajari anak tekun sholat. Mari kita simak kisah berikut ini.

Islam telah menganjurkan untuk berjarak dalam melahirkan anak. Namun, kami dikarunia anak pertama dan kedua dengan jarak usia berdekatan, 13 bulan. Ini salah satu karunia yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wata'ala, patut diterima dan disyukuri, serta menjadi pengalaman ini menjadikan kelahiran anak kedu dan ketiga malah berjarak enah setengah tahun.

Ada kemudahan tersendiri tatkala kedua anak kami berdekatan jarak lahir, khususnya dari segi pengajaran dan pendidikan. Ibarat satu kali mendayung 2-3 pulau terlampui. Sang abang yang diajari, adik akan mengikuti dan meniru.

Kami memiliki secuil pengalaman mendidik ketiga anak kami. Tentu orang lain mungkin memiliki segudang pengalaman dalam mendidik anak. SEcuil pengalaman itu tak lain adalah melatih dan membiasakan anak laki-laki shalat berjamaah di masjid. Alhamdulillah, sejak anak pertama berusia 2 tahun, kami selalu membiasakan shalat di masjid.

Setiap kami shalat, kami menyiapkan sajadah untuknya dan memakaikan pakaian sholatnya. Setiap terdengar suara adzan, kami memberitahukannya bahwa waktu sholat telah tiba, sehingga memasuki usia 3 tahun ia sudah sangat respon jika terdengar suara adzan. Dia akan bersegera mengambil songkok dan baju sholatnya.

Salah satu kesyukuran kami, karena anak-anak hidup dalam lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan pondok pesantren meski masih dalam rintisan. Semua anggota keluarga, ayah dan bundanya terlibat sholat berjamaah bersama santri di masjid, sehingga kedua anak laki-laki kami pun dibawa serta ke masjid.

Doa yang tak pernah luput senantiasa kami panjatkan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS untuk anak keturunannya :

Mendidik dan Mengajari Anak Tekun Sholat


Kami berikhtiar senantiasa memperlihatkan kepada anak-anak, bagaimana semestinya orang sholat. Bahkan ketika mereka merengek, kami tetap tegak dalam shalat. Ketika mereka memanggil, kami tetap fokus ke tempat sujud. Alhamdulillah rupanya hal ini menumbuhkan kesadaran padanya bahwa orang shalat tidak boleh menyahut dan menoleh.

Selain itu, kami selalu menyisipkan dalam nasehat-nasehat harian. Jika menginginkan sesuatu, kami mengajarinya mengutarakan semuanya kepada Allah melalui doa dan sujud.

Alkisah, suatu ketika, abangnya meminta dibelikan sepatu baru. Kami menasehatinya untuk banyak berdoa dan menabung. Ketika uang sudah mencukupi, kami pun memberi penekanan yang kuat, "Abang, uang celengan sudah cukup untuk beli sepatu hingga takdir yang menentukan, apakah Allah mengizinkan Abang memiliki sepatu baru atau tidak. Ayo banyak berdoa dan khusyukkan sholatnya ya!"

Alhamdulillah, dalam waktu tidak lama, allah menakdirkan membelikannya sepatu baru di pasar. Setelah melihat sepatu yang diinginkanya, terlihat rasa syukur ananda yang begitu besar kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Kami melihat ada manfaat dalam pelajaran ini. Si Abang merasakan bahwa shalat telah memberi manfaat padanya.

Anak kami yang pertama kini sudah berusia 8 tahun. Alhamdulillah sudah terbiasa menjadi imam shalat buat keluarga dan teman-temannya, bergantian dengan ayahnya. Bahkan si Abang telah terbiasa shalat berjamaah di masjid dan shalat qiyyamul lail di rumah.

Anak-anak kami terkadang lebih dulu menuju ke masjid untuk shalat Subuh. Sampai sekarang, shalat berjamaah di masjid sudah menjadi irama kehidupan keluarga yang menghiasi hari-hari kami. hal serupa juga kami biasakan saat dalam perjalanan dan safar. Kami tidak membiarkan anak-anak untuk tidak shalat, dengan alasan capek atau ketiduran di mobil. Jika masuk waktu shalat, kami berhenti di masjid dan tetap mengajak anak-anak untuk shalat berjamaah, sambil memberikan pemahaman bahwa kita bermusyafir sehingga akan memendekkan shalat.

Kami melibatkan mereka dalam barisan shaf, sehingga tidak ada ruang untuk bermain di masjid jika shalat telah ditegakkan. Mereka tetap menjalankan shalat dengan khusyu bersama orang-orang yang shalat, dana akan melihat dan merasakan bahwa shalat khusyu bukan hanya dilakukan orang-orang besar dan orang tua saja.

Mengajarkan anak-anak untuk shalat adalah perintah, sebagaimana Rasulullah SAW telah memerintahkan.

Rasulullah telah menentukan usia tujuh tahun sebagai usia dimulainya pelajaran shalat. Jelas terbaca bahwa membiasakan shalat untuk anak-anak adalah tanggungjawab orang tua. Anak-anak tidak akan mendapat ketekunan shalat tanpa pengajaran, pembiasaan, dan contoh, khususnya dari orang terdekatknya yaitu orang tuanya.

Demikianlah para pembaca yang budiman sepenggal kisah keluarga Qur'ani yang mampu menumbuhkan sikap cinta terhadap shalat kepada anak-anaknya. Semoga kisah di atas dapat menjadi inspirasi keluarga kita dalam membangun keluarga yang Qur'ani. Keluarga yang mampu Mendidik dan Mengajari Anak Tekun ShalatWallahu a'lam bishshawab.
loading...


EmoticonEmoticon