Monday, 27 March 2017

Soal USBN Bocor, Kok Bisa?


Mardiyas.com - Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2017 adalah yang pertama kali diadakan di tingkat satuan pendidikan di Indonesa. Pada penyelenggaraan yang pertama ini USBN sudah mendapat perhatian khusus terkait bocornya soal USBN. Ini adalah penyakit utama Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP). Dari tahun ke tahun UNKP selalu BOCOR, Dan mengundang pertanyaan besar, KOK BISA?

Hal ini yang pada akhirnya membedakan penilaian pada Rapor Ujian Nasional Sekolah. Seperti yang tertuang dalam Aplikasi Rapor UN 2016 (unduh klik disini), pada aplikasi rapor tersebut yang membedakan UNKP dengan UNBK adalah adanya nilai Integritas (Nilai Kejujuran). Berbeda dengan UNBK yang tidak terindikasi kecurangan karena minimnya kebocoran soal UNBK, UNKP sangat syarat dengan bocornya soal UN. Hal ini yang menyebabkan sekolah yang melaksanakan UNKP mendapat nilai Intergritas (Kejujuran).

|Baca Juga : Guru Pembocor Soal USBN dan UN DIPECAT

Soal USBN Bocor, Kok Bisa? - Ombudsman Jawa Timur telah mengantongi beberapa bukti kebocoran soal USBN SMA dan SMK. Bukan hanya itu, dalam sidak di beberapa sekolah, juga ditemukan pelanggaran dalam tata laksana penyelenggaraan USBN. Ombudsman adalah badan yang bertugas menyelidiki berbagai keluhan masyarakat.

Koordinator Bidang Pendidikan Ombudsman Jatim Vice Admira Firnaherera menyatakan, kebocoran soal itu sudah terdeteksi saat pelaksanaan USBN hari pertama. Pelapor membawa bukti berupa salinan soal USBN yang telah dikopi. Dalam bukti tersebut, terdapat tiga tipe soal USBN secara lengkap. Setelah dicocokkan, seluruh soal fotokopian itu sama dengan soal USBN yang diujikan di sekolah, seperti yang dilansir jpnn.com.

Laporan awal tersebut kemudian ditindaklanjuti Ombudsman dengan melakukan sidak ke beberapa sekolah. Di antara enam sekolah yang dikunjungi, empat sekolah terindikasi melakukan pelanggaran dalam USBN. Di SMA Trimurt, kunci jawaban USBN telah menyebar melalui Aplikasi WhatsApp.

"Laporan ini langsung kami dapatkan dari kepala sekolah," ujar Vice kepada Jawa Pos.

Kebocoran Soal USBN juga terjadi di SMAN 10. Dari sidak, diketahui bahwa ada siswa yang menyontek jawaban dengan cara memfotokopi soal ujian. Soal itu didapatkan dari grup jejaring media sosial yang dimiliki siswa lain.

Modus memperoleh jawaban USBN juga telah didaptakan Ombudsman yakni, membayar joki, dapat dari media sosial, membayar dengan cara urunan, hingga menerima bantuan dari lembaga bimbingan belajar.

Ketua PGRI Jawa Timur Ichwan Sumadi menyayangkan adanya kebocoran soal USBN. Menurut dia, setiap pelaksanaan ujian, sebenarnya ada penyempurnaan sistem. Terutama untuk memperkecil atau menghapus peluang kebocorran.

Namun, jika sampai terjadi kebocoran soal, ada tanda tanya besar. Khususnya pada kerahasiaan dokumen soal ujian.

Semestinya soal ujian harus steril dari berbagai kecurangan. Bila terjadi kecurangan, dampaknya dirasakan siswa. Salah satunya psikologis siswa. Kebocoran soal bakal membuat siswa mengejar kunci jawaban dan bergantung dengan kunci jawaban tersebut.

Selain itu, kalau siswa kedapatan melakukan pelanggaran, sebenarnya yang rugi adalah siswa itu sendiri. Sebab dia tentu bisa dikenai sanksi atas perbuatannya.

Karena itu sangat disayangkan jika ada oknum guru atau petugas sekolah yang membantu melakukan tidak kecurangan. "Dari tahun ke tahun, masih saja terjadi kebocoran soal ujian," ucap Ichwan.


Siswa Iuran Beli Bocoran Soal USBN

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengaku menerima sejumlah laporan terkait kasus kebocoran soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2017. Laporan kebocoran soal USBN itu diantaranya dari Pekanbaru, Medan, Indramayu, Kudus, dan Pati, Jakarta, serta Nusa Tenggara Barat.

Diantaran laporan yang masuk menyebutkan bahwa bocornya soal USBN dimulai dari bimbingan belajar (bimbel) berinisial Q dan IS.

Presidium FSG Wilayah Jakarta Heru Purnomo menuturkan, bocoran soal USBN di bimbel itu dijual sampai Rp. 10 juta. "Terdiri dari enam paket kunci jawaban", kata Heru (23/3).

Harga bocoran itu memang terlihat cukup mahal. Tetapi pada praktiknya siswa cukup iuran antara Rp.100 ribu sampai Rp.150 ribu untuk mendapatkan kunci jawaban.

Kemudian kunci jawaban dikirim ke siswa pada 19 Maret atau H-1 dimulainya USBN jenjang SMA dan SMK. Heru menuturkan modus penyebaran kunci jawaban USBN sama dengan Unas. Yakni kunci jawaban dikirim melalui Aplikasi WhatsApp atau Line.

"Bedanya kalau USBN disebar H-1 ujian. Sementara kalau Unas disebar pada hari H," tuturnya.

Terkait dengan dugaan bahwa yang membocorkan soal USBN adalah guru, menurut FSGI sangat kecil peluangnya. Sebab jika guru memang berniat membocorkan soal ujian, tidak hanya USBN saja. Tetapi juga bocor saat digelar ujian sekolah (US). Namun nyatanya yang terjadi kebocoran hanya USBN saja.

Sekjen FSGI Retno Listyarti mengatakan ada beberapa alasan siswa berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan nilai USBN yang tinggi. Diantaranya adalah nilai USBN nantinya akan dicetak bersamaan dengan ijazah.

Semua siswa tentu ingin mendapatkan nilai USBN yang tinggi di dalam ijazahnya. Supaya bisa mudah mencari kerja atau diterima di perguruan tinggi favorit.

Dia memprediksi tahun ini konsentrasi potensi kebocoran soal ujian justru pada USBN. Sayangnya ini tidak diantisipasi oleh Kemendikbud.

Mereka lebih fokus mengamankan Unas yang mulai digelar awal April nanti.

Inilah penyakit yang selalu menggerogoti dunia pendidikan Indonesia utamanya penghancuran moral anak bangsa dengan memulai dari berbuat curang pada saat ujian. Ingat mencontek sama saja dengan korupsi. Ujian saja korupsi bagaimana nanti jika anak bangsa ini menjadi pejabat negara? Wallahu a'lam.


loading...

1 komentar so far

Bocor karena tidak pakai Aquaproof soalnya.


EmoticonEmoticon