Saturday, 3 February 2018

Duka Dunia Pendidikan Indonesia, Guru Mati Ditangan Muridnya

Mardiyas.com - Duka dunia pendidikan Indonesia, Guru mati ditangan muridnya. Fenomena ajaib kembali mewarnai dunia pendidikan Indonesia. Setelah beberapa kasus guru diselkan oleh muridnya, kini guru sudah ada yang mati ditangan muridnya sendiri. Kemana wibawa seorang guru? Guru harus bagaimana lagi mendidik anak muridnya?


​Jumat siang tanggal 2 Februari 2018, Ahmad Budi Cahyono seorang guru muda bertalenta telah menempati rumah masa depannya. Ratusan orang mengantarkan dirinya diperistirahatan terakhirnya. Ahmad Budi Cahyono meninggal setelah terlibat pemukulan oleh muridnya. Ironisnya karena hanya ditegur dan dicoret pipinya karena tidur dikelas saat pelajaran. Hilang sudah nilai-nilai hormat terhadap guru.

Sontak kabar meninggalnya Ahmad Budi Cahyono yang meninggalkan seorang istri dan calon bayi yang baru berumur 4 bulan yang masih damai di perut ibunya ramai mewarnai media sosial Indonesia. Berikut salah satu tulisan pengantar duka atas meninggalnya Ahmad Budi Cahyono.

TRAGEDI GURU BUDI...​

Tak pernah siapapun menduga Kamis kemarin, 1 Februari 2018, hari terakhir guru muda Ahmad Budi Cahyono terakhir mengajar. Berhenti untuk mengajar selama-lamanya. Berpulang ia meninggalkan duka. 

Guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun,  Sampang,  Madura itu masih sangatlah muda. Masih harum berbunga pula kehidupannya, belum lama usia pernikahannya. Empat bulan buah cinta dalam kandungan istrinya.

Guru Budi mengajar seperti biasa. Meski gaji pas-pasan saja, ia terus mengabdikan dirinya. Bakti dan imbalan kadang tak sejalan, tapi ikhlas ia lakukan berharap suatu hari ia tak lagi jadi guru honorer, semua harapan untuk menafkahi keluarga barunya.

Kamis kemarin, ia mengajar di kelas XI. Pelajaran menggambar tengah dilakukan. HI, siswa itu tak peduli, ia terus mengganggu teman-temannya,  bahkan kemudian bisa tidur seenaknya dalam kelas. Guru tak lagi dihargai.

Guru Budi menegur, pipi si siswa dicoret cat air, bukannya sadar. HI merangsek Guru Budi, memukuli kepala gurunya sendiri. Pengganti orang tuanya itu tak lagi dihormati. Terus ia pukuli jika teman-temannya tak melerai. 

Tak sampai di situ, pulang sekolah murid durjana itu menunggu Guru Budi dan kembali menganiaya.

Setiba di rumah,  Guru Budi merasakan sakit kepalanya, makin menjadi. Tak sadarkan diri kemudian. Keluarga membawanya ke RS Dr. Sutomo, Surabaya. Semalam, sekitar pukul 21.40, Guru Budi berpulang. Diagnosis dokter mati batang otak.

Guru Budi berpulang dipukuli muridnya sendiri. Tragedi yang tak seharusnya terjadi. Hormat murid kepada guru tak seperti dulu. Sungkan siswa kepada guru tak lagi banyak ditiru. Negeri nanti seperti tak berjiwa lagi. Guru Budi meninggal karena matinya budi pekerti generasi.

Shinta, istri Guru Budi berduka tak terkira. Anak yang baru empat bulan dikandungnya, lahir nanti tak ditunggui ayahnya. Yatim si anak pada kelahirannya.

Shinta akan mengisahkan tentang Guru Budi,  guru honorer di daerah terpencil yang meninggal dianiaya muridnya sendiri, kepada anaknya. 

Kabar yang tak muncul sebanyak berita lainnya di media massa. Padahal inilah nilai dasar, ketika murid mulai tak menghargai gurunya, ketika siswa bisa memukuli guru semaunya. 

​"Guru Budi itu ayahmu, Nak," kata Shinta bertahun kemudian di hadapan pusara bertuliskan Ahmad Budi Cahyono.​ 
Tangis terpendam. 
Masa meredam. 
Luka mendalam. Terdiam.

​​Duka kami untukmu...​​
​​Insya Allah, engkau akan menjadi pewaris surga  akan menjemput isteri dan anakmu kelak di pintu surga.​​
*​Aamiin.!​

Semoga ini menjadi pelajaran yang begitu berharga untuk pemerintah dan insan pendidikan di Indoneisa. Formula yang benar-benar teruji dibutuhkan agar anak bangsa kembali pada fitrahnya mengerti siapa jati dirinya sebagai seorang murid. Sehingga tidak akan pernah ada lagi korban seperti Guru Muda Ahmad Budi Cahyono yang meninggal ditangan muridnya.

Kami segenap kru situs blog mardiyas.com menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sang Guru Muda Ahmad Budi Cahyono, Semoga khusnul khotimah dan kami meyakini engkau berpulang dalam keadaan Sahid Guru Budi.
loading...


EmoticonEmoticon