Tuesday, 24 April 2018

Bahaya, Hindari SBMPTN 2018 Jawaban Ngawur

Mardiyas.com - Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun ini memiliki tata cara penilaian yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar Perguruan Tinggi mendapatkan input mahasiswa yang benar-benar berkualitas, bukan mahasiswa yang bermental untung-untungan.


Sebelumnya Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Intan Ahmad mengatakan, perubahan sistem penilaian hasil ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2018 telah melalui kajian mendalam (dikutip dari jpnn.com 12/04/2018).

Nantinya, penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor 4 untuk jawaban benar, skor 0 untuk yang tidak menjawab dan skor negatif (-1) untuk jawaban yang salah.

Dia mengatakan dengan sistem yang ada selama ini, bisa menghasilkan banyak kandidat dengan jumlah skor yang sama. Tetapi dengan skema baru ini, kecil kemungkinan adanya peserta SBMPTN dengan nilai yang sama.

Di dalam skema baru perhitungan SBMPTN ditetapkan bahwa seluruh jawaban akan dikumpulkan secara nasional. Untuk setiap butir soal ujiannya.

Nanti panitia menganalisa soal tersebut. Misalnya untuk butir soal ujian nomor 10 secara nasional banyak yang menjawab salah, berarti soal tersebut kategori susah. Sehinga bobotnya 1.

Sementara untuk butir soal nomor 15 secara nasional banyak yang menjawab benar, berarti itu soal yang gampang. Sehingga bobotnya kurang dari 1 tetapi tidak sampai minus.

Dengan cara tersebut, Intan mengatakan sebuah soal dikatakan sulit atau mudah bukan dari kacamata si pembuatnya. Tetapi dari kacamata siswa peserta SBMPTN seluruh Indonesia. Dia mengatakan skema baru ini merupakan salah satu perbaikan pelaksanaan SBMPTN.

Berbeda dengan pernyataan Dr. Syamsudin Departemen Matematika ITB, kali ini apabila jawaban salah di SBMPTN (test masuk perguruan tinggi) akan dievaluasi dengan model statistik untuk dilihat apakah itu salah karena keliru menjawab (misalnya keliru perhitungan) atau salah karena jawaban spekulatif main tebak (jawaban ngawur).

Jika siswa banyak membuat jawaban yang salah, maka jawaban yang betul pun akan dipertanyakan apakah ini jawaban yang ngawur atau bukan.

Jadi jawaban salah ini mempunyai potensi akan memberikan bobot penilaian yang rendah kepada jawaban yang betul.

Kesimpulan sementara: jangan ngawur menjawab soal SBMPTN. Mending dikosongin saja jawabannya kalau tidak tahu jawaban yang betul.

Contoh. Misal ada 100 soal. Disediakan jawaban untuk tiap soal dengan pilhan ganda A, B, C dan D. 

Misalkan pula ada siswa dengan ngawur menjawab A untuk semua soal. Maka dengan peluang 25% ia akan menjawab benar dan 75% akan menjawab salah. Jadi siswa tadi menjawab benar sebanyak 25 buah soal dan kita mengira siswa tadi akan mendapat nilai 25. Tunggu dulu.

Dengan suatu model statistik, 75% jawaban yang salah ini akan memberikan informasi (berupa nilai suatu parameter) bahwa siswa ini telah menjawab dengan ngawur. Akibatnya jawaban yang betul tadi mungkin akan diberi bobot 0.2. Nilai akhir dari siswa tadi adalah 25 x 0.2 = 5. Padahal semula kita mengira ia akan mendapat nilai 25, ternyata nilainya hanya 5 dari maksimum 100. Ini simulasi saja sih.

Siapa yang akan dapat skor tinggi di SBMPTN? Tentu saja siswa yang bisa banyak menjawab soal dengan betul dan sedikit membuat kesalahan. Siswa yang banyak menjawab dengan ngawur (spekulatif) memang tidak layak diterima di perguruan tinggi.

Hindari Memberi Jawaban Ngawur di SBMPTN 2018!!!

Sumber: Dr. Syamsudin, Departemen Matematika ITB
loading...


EmoticonEmoticon